Ketapang – Dalam upaya meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dan pengelolaan jurnal akademik, STAI Al-Haudl Ketapang menggelar kegiatan pelatihan dan pendampingan pembuatan jurnal ilmiah pada Selasa malam, 3 Februari 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menghadirkan Dr. H. Muh. Haris Zubaidillah sebagai narasumber utama.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 20.30 hingga 22.00 WITA ini diikuti oleh unsur pimpinan kampus, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Ketua Badan Pengelola Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BPPM), serta sejumlah dosen di lingkungan STAI Al Haudl Ketapang.
Dalam pemaparannya, Dr. Haris menjelaskan berbagai tahapan penting dalam membangun dan mengelola jurnal ilmiah yang berkualitas. Menurutnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah menyiapkan dukungan kelembagaan, termasuk mengalokasikan anggaran yang memadai untuk kebutuhan pengelolaan jurnal.
“Perguruan tinggi perlu menyiapkan dana yang cukup untuk pembelian hosting, domain, instalasi Open Journal System (OJS), serta berbagai kebutuhan operasional lainnya agar jurnal dapat dikelola secara profesional dan berkelanjutan,” jelasnya.
Selain dukungan anggaran, beliau juga menekankan pentingnya keberadaan seorang administrator yang mampu menjadi support system dalam pengelolaan jurnal. Administrator tersebut bertugas mengelola hosting dan domain, menginstal serta mengembangkan OJS hingga siap digunakan sebagai platform penerbitan jurnal ilmiah.
Lebih lanjut, Dr. Haris menjelaskan bahwa sebelum jurnal diterbitkan, pengelola perlu menyiapkan berbagai komponen penting, antara lain melengkapi struktur editorial, menetapkan reviewer, menyiapkan minimal lima artikel ilmiah sebagai terbitan perdana, serta mengurus pendaftaran International Standard Serial Number (ISSN).
an berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Salah satu topik yang mendapat perhatian khusus adalah mengenai kriteria reviewer jurnal ilmiah. Menanggapi hal tersebut, Dr. Haris menjelaskan bahwa reviewer tidak cukup hanya berasal dari internal institusi.
“Reviewer sebaiknya juga melibatkan akademisi dari luar perguruan tinggi agar proses penilaian lebih objektif dan memenuhi standar pengelolaan jurnal ilmiah. Bahkan jika memungkinkan, reviewer yang dilibatkan memiliki rekam jejak publikasi internasional dan identitas akademik seperti Scopus ID,” ungkapnya.
Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan dan diskusi yang berlangsung hingga akhir acara. Melalui kegiatan ini, diharapkan STAI Al Haudl Ketapang dapat segera mengembangkan jurnal ilmiah yang berkualitas, memenuhi standar nasional, serta menjadi wadah publikasi hasil penelitian dosen dan akademisi.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kerja sama akademik antarlembaga pendidikan tinggi Islam dalam meningkatkan budaya riset, publikasi ilmiah, dan pengembangan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.

0 Komentar