Unit Pengembangan Bahasa (UPB) UIN Antasari Banjarmasin
menyelenggarakan program pembinaan membaca Al-Qur'an menggunakan Metode Tartily
Banjary. Metode Tartily Banjary disusun menggunakan pendekatan saintifik metode
Sam'iyyah Syafawiyah dan konsep Quantum Learning dengan merayakan setiap
keberhasilan dalam pembelajaran untuk menumbuhkan optimisme peserta didik.
Konsep Quantum Learning yang ditonjolkan dalam metode Tartily Banjary dikemas
dengan kata "SYARIF" jika diuraikan maka huruf "S" berarti
Siapakan "Y" berarti Yakinakan "A" berarti Ajariakan wan
Amatiakan "R" berarti Rancakiakan wan Rumuskan "I" berarti
Iramaakan dan "F" berarti Fasykur (syukuri dan rayakan). Program ini dirancang khusus sebagai kelas
matrikulasi bagi mahasiswa yang masih memiliki kemampuan dasar atau kurang
lancar dalam membaca Al-Qur'an agar mereka siap mengikuti pembelajaran bahasa
Arab.
Kegiatan ini ditujukan bagi seluruh
mahasiswa semester 1 UIN Antasari Banjarmasin yang teridentifikasi memerlukan
bimbingan intensif dalam membaca Al-Qur'an. Program ini dibimbing oleh Muhammad
Iqbal, M.Pd.I., seorang dosen dari STIQ Amuntai, yang hadir dalam rangka
menjalankan program pengabdian kepada masyarakat.
Pelaksanaan bimbingan bertempat di lingkungan kampus UPB UIN Antasari
Banjarmasin dari tanggal 11 September 2025 sampai 13 Desember 2025. Suasana akademik yang kondusif di kampus ini mendukung para
mahasiswa untuk fokus memperbaiki makhraj dan tajwid mereka.
Program ini dilaksanakan secara rutin sepanjang semester ganjil. Jadwal
pertemuan ditetapkan setiap hari Kamis,Jumat dan sabtu, pada pukul 06.40 hingga
08.20 WITA. Waktu pagi dipilih agar konsentrasi mahasiswa masih segar sebelum
memulai perkuliahan umum lainnya.
Banyak dari mahasiswa baru yang belum mahir membaca Al-Qur'an kerena dari
berbagai latar belakang sekolah. Kemampuan membaca Al-Qur'an merupakan fondasi
utama sebelum mempelajari bahasa Arab di UIN Antasari. Tanpa kelancaran membaca
Al-Qur'an, mahasiswa akan kesulitan dalam mengikuti materi bahasa Arab yang
berbasis teks suci. Oleh karena itu, program ini hadir untuk menjembatani
kesenjangan kemampuan tersebut agar mahasiswa memiliki dasar yang kuat.
Muhammad Iqbal, M.Pd.I. menerapkan pendekatan Metode Tartily Banjary,
sebuah metode lokal orang banua yang efektif untuk mempercepat kefasihan
membaca dengan irama yang teratur dan aturan tajwid yang ketat namun mudah
diikuti.
Dalam prosesnya, tutor melakukan bimbingan secara bertahap:
Pengelolaan kelas pembelajaran
a. Setiap kelompok dibimbing 1
tutor
b. Setiap kelompok sebanyak 10
sampai dengan 14 mahasiswa
c. Pengaturan posisi duduk
mahasiswa yaitu dengan melingkar atau setengah lingkaran/bentuk U atau
berbanjar
d. pembelajaran dilaksanakan dengan
4 model
Model belajar
Model pembelajaran dalam Tartily
Banjary dengan 4 cara, yaitu:
a. Individual, diterapkan jika
mahasiswa bervariasi dengan jilid dan halaman berbeda. Penerapannya Dengan cara
memanggil mahasiswa satu persatu sementara mahasiswa yang lain diberi tugas.
b. Klasikal individual, diterapkan
jika jilid sama dan halaman berbeda. Penerapannya dengan klasikal halaman yang
ditentukan tutor dan dilanjutkan memanggil satu persatu. Sementara yang tidak
dipanggil diberikan tugas.
c. Klasikal baca simak, diterapkan
jika jilid sama dan halaman beda. Penerapannya dengan klasikal halaman yang
ditentukan tutor kemudian setiap mahasiswa diminta membaca dan yang lain
menyimak temannya .
d. Klasikal baca simak murni,
diterapkan jika jilid dan halaman sama. Penerapannya murni klasikal dan baca
simak sesuai jilid dan halaman di kelompoknya.
Evaluasi
Evaluasi diterapkan menjadi empat
bentuk, yaitu:
a. Evaluasi harian, tercantum di dalam buku
prestasi.
b. Evaluasi kenaikan jilid
c. Evaluasi akhir munaqasyah
Materi bisa diunduh Di Sini


0 Komentar