Webinar Nasional: Model Pendidikan Karakter dalam Pembinaan Kedisiplinan, Tanggung Jawab dan Kemandirian

Acara Webinar Nasional Hari Guru Tema Inovasi-Inovasi pembelajaran ini diprakasai oleh Analog Teacher of Learning yang merupakan salah satu wadah yang bergerak dalam dunia pendidikan yang didirikan karena keresahan beliau melihat fenomena ynag terjadi bahwa banyaknya para guru-guru yang tidak mengikuti perkembangan tekhnologi sedangkan peserta didik dan pendidikan saat ini sudah harus mengikuti perkembangan tekhnologi  karena kedepannya kita tidak bisa memungkiri bahwa tekhnologi sudah mulai menjamah setiap sisi keidupan, Analog Teacher of Learning ini diprakasai oleh Dosen STIQ Amuntai Syarifudiin, Mpd , acara ini diselenggarakan untuk memperingati hari Persatuan Guru  Republik Indonesia (PGRI) Nasional  dengan tema: “Inovasi-inovasi Pembelajaran yang up to date, ditayangkan secara live di youtobe dan zoom pada tanggal 26 November 2020 dihadiri oleh peserta yang terdiri dari beberapa praktisi pendidikan para guru, mahasiswa  dan dosen seluruh Indonesia dan menurut data paniti ada sekitar 200 peserta yang bergabung dalam acara webinar Nasional ini, acara ini mengundang 13 Narasumber yang tersebar dari berbagai Perguruan Tinggi seluruh Indonesia.

Pada webinar Nasional ini salah satu Dosen STIQ Miftahul Jannah M.Pd bekesempatan untuk menjadi narasumber acara dengan tema Model Pendidikan Karakter dalam pembinaan kedisiplina, tanggung jawab dan kemandirian, narasumber mengambil tema tersebut karena Pendidikan karakter menjadi hal yang sangat penting untuk ditanamkan pada anak usia sekolah mengingat banyaknya krisis moral yang terjadi dikalangan remaja belakangan ini. Selain itu, Indonesia juga kekurangan tokoh-tokoh yang dapat dijadikan sebagai teladan. Hal ini disebabkan para figure pablik sekarang banyak yang melakukan kriminalitas seperti korupsi, kolusi, prostitusi, dan lain sebagainya, narasumber menyebutkan beberapa model pendidikan karakter yang bisa diterapkan menurut berbagai  tokoh timur dan tokoh barat.

Narasumber mengutip salah satu tokoh filsafat islam yaitu Ibnu Miskawaih yang menyentuh konsep tentang pendidikan karakter dalam bukunya tahzib al-akhlak wa tahir al-a’raf bahwa dengan karakter seseorang dapat berperilaku terpuji dan sempurna sesuai dengan hakikatnya sebagai manusia dan merubah derajatnya menjadi manusia yang bernilai. Al-Ghazali dalam kitabnya ihya' mendefinisikan karakter sebagai "suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang dengan mudah dan gampang memunculkan perbuatan, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Jika dari sikap itu lahir perbuatan baik dan terpuji, dari segi akal dan syara', maka disebut karakter yang baik, dan jika yang lahir perbuatan jelek, maka disebut karakter jelek.

Tokoh Barat yang dikutip Narasumber ialah Sigmund Freud menyebutkan bahwa character is a striving system whish underly behavior, pendidikan karanter diartikan sebagai kumpulan tata nilai yang terwujud dalam suatu sistem daya dorong yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang akan ditampikan secara mantap. Thomas Lickona mengatakan bahwa pendidikan karakter untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti,yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang yaitu tingkah lakuyang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dls.

Beberapa model pendidikan karakter yang ditawarkan oleh Narasumber ialah:

1.      model Tadzkirah, yang merupakan singkatan dari berbagai metode yang dilaksanakan dalam model tersebut, yakni: tunjukkan teladan, arahkan (berikan bimbingan), dorongan (berikan motivasi/reinforcement), zakiyah (tanamkan niat yang tulus), kontinuitas (sebuah proses pembiasaan untuk belajar, bersikap dan berbuat), ingatkan, repetisi (pengulangan), organisasikan, dan hati (sentuhlah hatinya))Konsep keteladanan ini sudah diberikan dengan cara Allah mengutus Nabi saw untuk menjadi panutan yang baik bagi umatIslam sepanjang masa dan di semua tempat, sesuai QS Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu”.

2.      Model Pendidikan karakter menurut MulyasaMenurut Mulyasa, model pendidikan karakter antara lain adalahsebagai berikut: pembiasaan dan keteladanan, pembinaan disiplin, hadiahdan hukuman, CTL (Contextual Teaching and Learning), Bermain peran (Role Playing), dan pembelajaran partisipatif (Participative instruction).

3.      Model Istiqomah mempunyai arti:I: imagination (guru harus mampu membangkitkan imajinasi jauh ke depan, baik itu manfaat ilmu maupun menciptakan teknologi dari yang tidak ada menjadi ada dan bermanfaat bagi kemakmuran manusia. S: Student centre. Murid sebagai pusat aktivitas, T: Teknologi (guru dapat memanfaatkan teknologi); I: intervention; tingkah laku manusia dipengaruhi oleh masa lalunya; Q: Queestion and Answer; Bertanya dan menjawab, O: Organisation (guru dapat mengontrol pola organisasian ilmu yang telah diperoleh peserta didik), M: motivation. (guru dapat memberi motivasi kepada peserta didik), A: application; (Puncaknya ilmu adalah amal), H: Heart, hepar (guru harus mampu membangkitkan kekuatan spritual kepada peserta didik).

4.      Model IQRO-FIKIR-DZIKIR ialah: I: inquiry; penyelidikan; Q: Question;. bertanya; R: Repeat; pengulangan; A: Action; puncak belajar adalah amal. F: Fun; kegiatan belajar yang menyenangkan; I: Ijtihad; pintu ijtihad; K: Konsep; I: Imajinasi; R; Rapi, D:Doa, Z: Zikir, I: Iman,K: Komitmen, I: Ikrar, dan R; realitas

5.      Model Pendidikan Karakter menurut Ibnu Miskawaih ada 4 yaitu: Pemberian nasihat, Pemberian reward and Punishment, Menanamkan rasa malu, Memanusiakan manusia. 

Acara yang berlangsung sekitar 3 jam tersebut terlaksana dengan lancer dan sukses, disaat pandemi membuat sesuatu hal yang bermanfaat tidak akan pernah menjadi kendala selama kita mau dan selalu berusaha dan acara ini dapat diakses di https://www.youtube.com/watch?v=0dzxvhBgMdg, penulis mengucapkan selamat hari Guru buat Para guru di seluruh Indonesia semoga kehidupan para guru selalu sejahtera dan makmur selalu, amiin.


Arsip Kegiatan 

Komentar